Kesenian Tayub

By Dolan Blora - Juli 23, 2019

Salah satu delegasi dari Amsterdam hanyut dalam tarian tayub yang disajikan kepada peserta IGF 2018 di kawasan Loko Tour Cepu, Rabu (15/8/2018).

Awalnya tayub menjadi hiburan para prajurit ketika lelah di medan perang, belum ada namanya, yang penting prajurit itu menari saja, karena mereka butuh hiburan segar. Lalu mereka menayub bersama rakyat jelata, tak heran jika dulu kesannya liar, agak seronok, tak ada aturan.

Namun sejak zaman Sunan Kalijaga tayub justru digunakan untuk sarana pengumpulan massa, mereka diberi ajaran agama yang benar. Sunan lalu membuat aturan, karena itu namanya "Tayub, "ditata ben ben guyub" atau "diatur supaya rukun", tak ada lagi minuman keraas, tak ada "senggakan senggakan" yang mesum.

Di Kecamatan Jepon dulu hampir tiap malam ada pertunjukan tayub, semalam bisa dua sampai empat tempat pertunjukan. Dulu pertunjukan tayub bisa menjadi ajang pamer para pedagang kayu jati karena lewat pertunjukan itu bisa mempertemukan orang-orang sangat berkepentingan dengan hutan jati.

Oleh karena itu tidak heran jika Blora sejak dulu bukan hanya dikenal sebagai penghasil kayu jati terbaik di Pulau Jawa namun juga penah menyandang predikat sebagai Kota Ledhek di Jawa Tengah.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar